Surabaya,- (www.kampoeng-ramadhan.blogspot.com) Banyak peserta Kampoeng Ramadhan 2012, awalnya bukan sebagai pedagang atau penjual makanan. Namun mereka banyak yang mengawali karir usahanya saat ada perhelatan Kampoeng Ramadhan. Seperti Bu Widya, Warga Manukan Peni, Tandes Surabaya, sebelum hanya membuka usaha rumahan dengan melayani pesanan aneka kue basah dan kering. Namun saat digelar Kampoeng Ramadhan 2011, mencoba menjual Nasi Bakar dengan masih mempertahankan aneka kue basah dan kering. "Alhamdulillah, ternyata yang banyak diminati justru Nasi bakar. Sehari-hari bisa menghabiskan 50 hingga 60 bungkus, belum termasuk yang pesan di rumah", kata Bu Widya saat itu yang dibantu suaminya dan kedua anaknya.
Sekarang Bu Widya dengan merek dagang "Warung Bu Widya", telah membuka usaha permanen di Kawasan Puri Bukit Mas Surabaya. Usaha itu sekarang menjadi maju, karena saat Kampoeng Ramadhan 2011 benar-benar digunakan sarana promosi secara maksimal. "Saya sengaja mencetak kartu nama cukup banyak, saat ikut Kampoeng Ramadhan tahun lalu. Dari kartu nama itulah, banyak pengunjung menghubungi kami. Setelah saya berutahu bahwa saya ada usaha di Villa Bukit Mas, mereka pun rela datang meski jauh tempat tinggal mereka", jelas Bu Widya.
Pengalaman serupa juga dialami Ihya Ulumuddin, wartawan Koran Sindo Biro Surabaya. Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya yang akrab dipanggil I'ik ini, selama Kampoeng Ramadhan berjualan Tahu Bulat yang khusus didatangkan dari Sumedang, Jawa Barat. "Alhamdulillah Mas, selama Pameran selalu habis. Bahkan banyak teman-teman yang nongrong di tempat saya, akhirnya saya juga berjualan kopi. Jadi meski Kampoeng Ramadhan sudah tutup, saya dan teman-teman tetap melanjutkan ngobrol sampek larut", kata I'ik yang didampingi Istrinya.
Setelah Kampoeng Ramadhan usai, I'ik menjutkan usahanya berjualan Tahu Bulat di kawasan SMP-23 Surabaya. Namun usaha peramanen ini tidak diawasi sendiri, melainkan sudah bisa mengangkat karyawan. "Ya mumpung ada peluang, kita lanjutkan saja. Namun usaha saya ini tidak mengurangi aktivitas saya sehari-hari sebagai jurnalis, karena sudah ada yang ngurusi. Sebelumnya, saya ambil sendiri bahan bakunya di Terminal Bungurasih yang dikirim langsung dari Sumedang setiap pagi", aku Pria yang sepintas wajah dan rambutnya mirip Dewa Bujana ini.
Setelah menjelang hari-H dan kita ekspose besar-besaran di media dan spanduk raksasa yang dipasang di lapangan, kemudian muncul respon yang sangat besar. Perusahaan yang awalnya ragu, akhirnya menyatakan ikut. Namun tidak sedikit perusahaan yang kecewa, karena akibat keterlambatan mereka menyataakan siap ikut. "Waktu itu, peminatnya sangat banyak. Sehingga panitia tetap harus membatasi sesuai lay-out yang sudah kita siapkan. Makanya, agar tidak terlambat segera saja booking tempat", pungkas Hendy sambi berpormosi.
No comments:
Post a Comment